Apakah Kamu Berani Jadi Walikota?

Karakter di SIMCITY SOCIAL (diambil dari: simcityfansite.com)

Pada dasarnya, saya ga terlalu suka main game di komputer. Saya juga ga mengikuti bagaimana fenomena game online yang marak ketika dulu jaman kuliah di game-game center di Jogja. Tapi, kira-kira sudah lima abad setengah tahun terakhir ini, saya mulai bermain game di Facebook: SIMCITY SOCIAL.

Dulu, saya pernah main game di Facebook, yaitu Zoo World, sekitar tahun 2009-2010. Tapi, lama-lama bosen ya… Karena waktu itu memang banyak teman saya di Facebook yang ga main game begituan. Game yang dianggap remeh temeh. Waktu itu memang yang sedang boom adalah Mafia Wars. Saya sih ga ikut-ikutan… Ga mudeng mainnya juga sih ya…

Nah, di tahun 2012 ini, sebenarnya saya lebih dulu kenal game THE SIMS SOCIAL. Salah satu game yang sebenarnya versi PC-Dekstopnya juga sudah terkenal. Namun, lagi-lagi karena terganjal model permainannya yang menurut saya dibangun ala-ala relationship, saya pikir “ini sih kurang menantang”. Akhirnya, baru seuprit saya main, ternyata sudah saya tinggalkan. Padahal teman saya banyak yang main sih. :)   more…

Share
Sebuah Misteri di Kemaro Island

Kemaro Island dilihat dari pinggir INTIRUB

Pernah dengar tentang Kemaro Island? Belum ya? Saya kasih tau kalau memang belum tau… *pegang-pegang jenggot* Hihihi…

Pulau Kemaro adalah sebuah pulau yang terbentuk dari delta kecil di tengah Sungai Musi. Letaknya 6 km dari Jembatan Ampera. Jangan berpikir bahwa Kemaro Island adalah sebuah pulau di Tanzania atau New Zealand ya… Pulau Kemaro berada di kota Palembang, Sumatera Selatan.

Beberapa abad waktu lalu, saya mendapatkan tugas kantor ke New York Palembang. Nah, mumpung ada waktu sisa untuk jalan-jalan, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Pulau Kemaro. Di Jakarta, saya sudah diberi tahu oleh teman, bahwa salah satu tujuan menarik di Palembang adalah menikmati sore di Pulau Kemaro.

more…

Share
Dari Bangkok Menuju Pattaya

Tiket Bis Bangkok – Pattaya dan Pattaya – Bangkok

Juli lalu saya ke Thailand. Tujuan utama memang ke Bangkok city, tetapi (menurut saya sih…) ga ada salahnya untuk mencoba kota lain seperti Pattaya atau Phuket (anak pelancong sejati harus setuju nih…. ). Saya memilih Pattaya. Selain lebih dekat dengan Bangkok –sehingga tidak membutuhkan transportasi udara menuju Phuket- Pattaya juga berada di pinggir teluk. Sehingga suasana pantainyapun terasa. Biasa, orang seperti saya ini demennya emang ngliat pantai-pantai…

Saya berangkat sendiri ke Pattaya, karena teman-teman rombongan yang lainnya sudah pergi ke Phuket, ada yang berpindah ke Singapura atau mau jalan-jalan di Bangkok saja. Saya sih sedikit bosan dengan Bangkok (ceileeeh.. gayeeee…), karena hiburannya ya begitu-begitu aja, layaknya Jakarta (pelancong sok banget….).

Pattaya adalah tujuan saya selanjutnya. Sendirian, dengan memikul odong-odong ransel, ditambah tas kecil berisi paspor, dompet, kamera poket dan recehan bath. Serta tas kamera yang selalu saya bawa kemana-mana. Perjalanan Bangkok – Pattaya memang lebih tepat jika menggunakan bis. Hanya saja, kita harus tahu, bis mana yang tidak bikin kita ‘tua di jalan’ alias selalu berhenti layaknya bis Jakarta – Bogor. Dari website hasil googling ketika masih di Jakarta, untuk menuju ke Pattaya, saya bisa memulai perjalanan dari terminal bis Ekkamai.

more…

Share
Dua tahun lalu, 36 orang tewas di Petarukan

Infografik KOMPAS tentang Kecelakaan Kereta di Petarukan.

Stasiun Solo Balapan – 4 Oktober 2010

Jam di handphone saya menunjukkan pukul 18.50. Kira-kira 10 menit lagi, kereta Senja Utama Solo yang saya tumpangi akan berangkat menuju Jakarta. Saya berdoa, memohon keselamatan selama perjalanan dari Yang Kuasa. Setiap kata-kata dalam doa saya menunjukkan bahwa saya masih ingin hidup, dan berharap kereta saya baik-baik saja hingga ke Jakarta. Pikiran tidak tenang karena mendapatkan tempat duduk di gerbong paling belakang kereta. Cemas dan gelisah menghantui diri saya. Orang-orang yang berada satu gerbong dengan saya tidak tahu, bahwa saya adalah salah satu korban kecelakaan kereta Senja Utama Semarang 2 hari sebelumnya. Kereta yang membawa saya dari Jakarta menuju Semarang.

Saya tahu, saya sedang mengalami trauma kecil. Jujur, sebenarnya saya masih merasa ketakutan untuk naik kereta. Bayangkan, dua hari sebelumnya saya melihat puluhan korban tewas tertabrak kereta yang sedang saya tumpangi, dan saya berada dalam satu gerbong yang –Puji Tuhan- tidak mendapatkan luka serius.  Dan sekarang saya harus kembali ke Jakarta naik kereta lagi. Trauma itu tidak bisa hilang dengan cepat. (Detik-detik kisah tragis kecelakaan itu bisa dibaca di blog saya, di sini).

more…

Share